Kamis, 14 Juni 2012

BAGAIMANA HUKUMNYA QODHO SHOLAT 'AID ('aidul fitri & 'aidul adha)

Pertanyaan :
Apakah hukum mengqodho' sholat 'aidul fitri dan 'aidul adha?
Jawaban :

hukumnya sunah, sebagaimana hukum mengqodho' sholat sunah yang mempunyai waktu seperti sholat dzukha, sholat sunah qobliah dan ba'diah, dan sholat sunah-sholat sunah lain yang berhubungan qoyyid al-waqti.

sebagaimana keterangan dalam kitab 'ianah at-tholibin juz :1 hal :302
يسن قضاؤها إن فاتت لانه يسن قضاء النفل المؤقت إن خرج وقته
Artinya :
dan disunnahkan mengqodlo' sholat ied jika waktunya udah lewat karena menqodlo' sholat sunnah yg punya waktu saat waktunya kluar/udah lewat itu sunnah
'ianatut tholbin juz 1 hal 302.

adapun pendapat berbagai madzhab, keterangan dalam kitab majmu' syarah muhadhadhab juz :7 hal :29:
فرع)في مذاهب العلماء إذا فاتت صلاة العيد * قد ذكرنا ان الصحيح من مذهبنا انها يستحب قضاؤها ابدا وحكاه ابن المنذر عن مالك وابي ثور وحكى العبدرى عن مالك وابي حنيفة والمزني وداود انها لا تقضي وقال أبو يوسف ومحمaد تقضى صلاة الفطر في اليومالثاني والاضحى في الثاني والثالث وقال اصحاب ابي حنيفة مذهبه كمذهبهما وإذا صلاها من فاتته مع الامام في وقتها أو بعده صلاها ركعتين كصلاة الامام وبه قال أبو ثور وهو رواية عن احمد وعنه رواية يصليها أربعا بتسليمة وان شاء بتسليمتين وبه جزم الخرقي والثالثة مخير بين ركعتين واربع وهو مذهب الثوري وقال ابن مسعود يصليها اربعا وقال الاوزاعي ركعتين بلا جهر ولا تكبيرات زوائد وقال اسحق ان صلاها في المصلى فكصلاة الامام والااربعا 

 Artinya :
Kami sebutkan bahwa yang shahih dimadzhab Syafi’i sesungguhnya shalat ied tersebut sunnah diqadha ‘selamanya’.
Ibn Mundzir menhikayahkan pendapat dari Imam Malik dan Abu Tsaur, al-‘Abdari menhikayahkan pendapat dari Imam Malik, Abu Hanifah, al-Mazani dan Daud “Sesungguhnya shalat ied tersebut tidak dapat diqadha”.
Abu Yusuf dan Muhammad menilai “Untuk shalat Ied Fitri diqadha dihari kedua sedang shalat Ied al-Adha diqadha dihari kedua dan ketiga”.
Pendapat yang berkembang pada para Pengikut-pengikut Abu Hanifah sebagaimana madzhab dua madzhab tersebut “Bila shalat Ied terlewatkan dikerjakan bersama Imam pada waktunya atau pada setelah waktunya maka jalanilah shalat dua rakaat shalat sebagaimana shalat Imam”, pendapat ini senada dengan Abu Tsaur dan juga salah satu riwayat pendapat dari Imam Ahmad Bin Hanbal yang riwayat kedua dari pendapatnya sebagaimana yang dimantapi oleh Al-Kharraqy “Jalanilah shalat empat rakaat dengan sekali salam atau dua kali salam”, sedang riwayat yang ketiga dari Imam Ahmad yang merupakan madzhab dari at-Tsauri menyatakan “Baginya diperkenankan memilih dua atau empat rakaat”.
Ibn Mas’ud memilih “Kerjakanlah shalat empat rakaat”Al-Auzaa’i menyatakan “Dua rakaat dengan bacaan yang tidak keras dan tanpa takbir-takbir tambahan”Imam Ishaq berkata “Bila dikerjakan dimushalla maka sebagaimana shalat ied yang dikerjakan oleh imam (dua rakaat), namun bila tidak maka empat rakaat”.
al-Majmuu’ ala Syarh al-Muhadzdzab V/29.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar